Viral Death is Not Content menjadi seruan yang menggema di media sosial Indonesia pasca meninggalnya selebgram Lula Lahfah. Puluhan ribu warganet membagikan pesan tersebut sebagai bentuk protes terhadap penyebaran foto jenazah yang tidak etis di berbagai platform digital.
Selain itu, fenomena ini memunculkan diskusi penting tentang empati dan etika bermedia sosial. Psikiater menyoroti bahwa tindakan menyebarkan konten sensitif terkait kematian seseorang bisa memberikan dampak psikologis serius bagi keluarga yang di tinggalkan.
AWAL MULA SERUAN DEATH IS NOT CONTENT VIRAL
Seruan “Death is Not Content” pertama kali muncul di Instagram Story setelah foto yang di duga menampilkan kondisi terakhir Lula Lahfah menyebar dengan cepat. Template berlatar hitam dengan tulisan putih ini kemudian di bagikan ulang oleh puluhan ribu pengguna media sosial.
Pesan lengkap dalam template tersebut berbunyi: “Someone passed away. A life was lost. Death is not content. Let’s be mindful and respect the privacy of those who can no longer speak.” Terjemahannya kurang lebih: “Seseorang telah meninggal dunia. Satu nyawa telah pergi. Kematian bukanlah konten. Mari lebih bijak dan hormati privasi mereka yang tak lagi dapat bersuara.”
Hingga Sabtu, 24 Januari 2026 pagi, template ini sudah di bagikan lebih dari 65.000 kali oleh berbagai kalangan. Angka ini terus bertambah seiring berjalannya waktu dan semakin banyak orang yang ikut menyuarakan keprihatinan mereka.
SELEBRITI KOMPAK SEBARKAN SERUAN ETIKA MEDSOS
Sejumlah selebriti dan figur publik turut membagikan seruan “Death is Not Content” melalui Instagram Story mereka. Nama-nama besar seperti Karin Novilda (Awkarin), Keanu, Enzy Storia, Adhisty Zara, dan DJ Bravy ikut menyuarakan pesan tersebut.
Selain mereka, Azizah Salsha, Syifa Hadju, Tasya Farasya, dan Aurelie Hermansyah juga turut berpartisipasi dalam kampanye digital ini. Solidaritas para selebriti menunjukkan kepedulian kolektif terhadap isu etika di media sosial.
Dengan demikian, seruan ini bukan hanya gerakan individual melainkan menjadi suara bersama dari komunitas hiburan Indonesia. Mereka ingin mengingatkan bahwa kematian seseorang tidak layak di jadikan konten untuk meraih engagement atau popularitas.
AWKARIN MURKA DAN BERI PERINGATAN TEGAS
Karin Novilda atau Awkarin memberikan reaksi paling tegas terhadap penyebaran foto jenazah Lula Lahfah. Sebagai sahabat dekat almarhum, ia sangat geram melihat perilaku sebagian warganet yang tidak punya empati.
Melalui Instagram Story di akun @narinkovilda, Awkarin menulis dengan nada marah: “Please take down any photos regarding our friend on your stu*** a** Tiktok.” Pesan ini jelas menunjukkan kekesalannya terhadap mereka yang menyebarkan foto sensitif tersebut di platform video pendek.
Lebih lanjut, Awkarin juga memberikan arahan kepada warganet yang ingin membantu. “Yang bisa kalian bantu adalah doa dan tolong report any content atau foto yang nyebarin almarhumah,” tulisnya dengan tegas.
AWKARIN KECAM SPEKULASI LIAR WARGANET
Selain meminta penghapusan foto, Awkarin juga mengecam spekulasi liar yang beredar terkait penyebab kematian Lula Lahfah. Ia mengingatkan publik untuk tidak berasumsi tanpa dasar yang jelas.
“Dan tolong jangan berasumsi atau ngomong yang aneh-aneh yang bukan kapasitas lo. Pakai hati dan otak sebelum komentar apa pun. Makasih,” tulis Awkarin dengan penuh emosi.
Pesan tersebut menyasar warganet yang menyebarkan dugaan-dugaan tidak berdasar, termasuk tuduhan overdosis yang sempat viral. Awkarin menekankan bahwa spekulasi semacam itu hanya menambah luka bagi keluarga dan orang-orang terdekat.
PSIKIATER SOROTI PENTINGNYA EMPATI DI MEDSOS
Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, memberikan perspektif profesional mengenai fenomena penyebaran foto jenazah di media sosial. Ia menegaskan bahwa empati jauh lebih penting daripada sekadar rasa ingin tahu.
“Empati lebih penting daripada rasa ingin tahu. Klik dan share yang kita lakukan dapat memberikan dampak psikologis nyata bagi orang lain,” tegas dr Lahargo saat di hubungi media, Sabtu (24/1/2026).
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam bermedia sosial. Tidak semua hal pantas di bagikan, terutama konten yang berpotensi melukai perasaan orang lain.
DAMPAK TRAUMA SEKUNDER AKIBAT SEBAR FOTO JENAZAH
Psikiater dr Lahargo menjelaskan bahwa penyebaran foto jenazah bisa memicu trauma sekunder bagi siapa saja yang melihatnya. Dampak ini tidak hanya menimpa keluarga korban, tetapi juga masyarakat umum.
“Melihat gambar jenazah, terutama yang meninggal secara mendadak atau tragis, dapat memicu kaget berlebihan, mual, pusing, sulit tidur, bayangan berulang,” sebut dr Lahargo menjelaskan gejala-gejala yang mungkin muncul.
Bahkan menurut sang psikiater, hal ini bisa terjadi pada orang yang secara pribadi tidak begitu dekat dengan yang bersangkutan. Otak manusia tidak bisa membedakan trauma yang di alami langsung atau yang di lihat berulang kali lewat layar.
RISIKO NORMALISASI KEMATIAN TRAGIS
Penyebaran konten kematian secara masif juga membawa risiko berbahaya lainnya. Dr Lahargo mengingatkan bahwa paparan berulang terhadap gambar-gambar semacam itu bisa membuat masyarakat menganggap kematian tragis sebagai hal normal.
“Sehingga berisiko menganggap menormalkan kematian tragis, dan pada kelompok rentan dapat meningkatkan perilaku meniru. Ini sudah lama di kenal dalam dunia psikiatri dan komunikasi kesehatan,” jelas psikiater yang bertugas di RS Jiwa dr. Marzoeki Mahdi tersebut.
Dengan demikian, penyebaran foto jenazah bukan hanya masalah etika, tetapi juga menyangkut keselamatan publik. Kelompok rentan seperti remaja atau orang dengan gangguan mental bisa terdampak secara serius.
KELUARGA KORBAN MENANGGUNG BEBAN PALING BERAT
Dampak psikologis paling berat tentu di rasakan oleh keluarga Lula Lahfah yang sedang berduka. Dr Lahargo menggambarkan betapa menyakitkannya situasi yang harus mereka hadapi.
“Bayangkan duka keluarga yang belum pulih, lalu harus melihat ulang kematian orang tercinta, sekaligus menghadapi komentar, spekulasi, dan penyebaran foto di ruang publik,” ujar dr Lahargo dengan penuh empati.
Kondisi ini bisa memperpanjang proses berduka dan memicu complicated grief. Istilah ini merujuk pada kondisi duka yang berlangsung lebih lama, lebih berat, dan lebih mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari di bandingkan proses berduka normal.
APA ITU COMPLICATED GRIEF?
Complicated grief merupakan istilah dalam dunia psikiatri yang menggambarkan proses berduka yang tidak berjalan normal. Kondisi ini terjadi ketika seseorang tidak mampu menerima kenyataan kehilangan dan terus terjebak dalam kesedihan mendalam.
Paparan berulang terhadap gambar atau narasi kematian terkait orang tercinta dapat memperparah kondisi tersebut. Keluarga yang terus-menerus melihat foto jenazah tersebar di media sosial berpotensi mengalami gangguan ini.
Selain itu, komentar-komentar negatif dan spekulasi liar yang menyertai penyebaran foto juga menambah beban psikologis. Mereka harus menghadapi duka pribadi sekaligus tekanan dari ruang publik secara bersamaan.
SERUAN UNTUK MENAHAN JEMPOL SEBELUM SHARE
Dr Lahargo memberikan nasihat sederhana namun bermakna bagi pengguna media sosial. Ia menyarankan masyarakat untuk berpikir dua kali sebelum menekan tombol share atau bagikan.
“Kalau ingin peduli, cukup doakan. Kalau ingin berempati, hentikan penyebaran. Berita boleh cepat, tapi empati jangan tertinggal. Menahan jempol kadang lebih menyelamatkan daripada menekan tombol share,” kata dr Lahargo.
Pesan ini sangat relevan di era digital ketika informasi menyebar dengan sangat cepat. Satu klik bisa memberikan dampak yang tidak terduga bagi orang lain, terutama bagi mereka yang sedang mengalami duka mendalam.
SOSIOLOG INGATKAN NORMA DAN ETIKA BERMASYARAKAT
Dosen Sosiolog FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Drajat Tri Kartono juga memberikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa penyebaran foto jenazah tidak dapat di benarkan secara etika dan norma masyarakat.
“Sebenarnya menurut norma, penyebaran foto jenazah ini tidak di perkenankan,” jelas Drajat saat di hubungi media, Sabtu (24/1/2026).
Dalam tradisi masyarakat Indonesia, kabar kematian biasanya di sampaikan lewat pemberitahuan resmi. Di wilayah Solo, Jawa Tengah misalnya, pemberitahuan ini di sebut “ulem” dan di sebarkan ke khalayak agar bisa bertakziah atau mengantar ke kubur.
FOTO YANG LAZIM DIGUNAKAN DALAM BERITA DUKA
Drajat menjelaskan bahwa foto yang digunakan dalam pemberitahuan kematian umumnya adalah foto almarhum atau almarhumah ketika masih sehat. Bukan foto saat sakit atau setelah meninggal dunia.
Tradisi ini menunjukkan penghormatan terhadap orang yang telah meninggal. Masyarakat Indonesia sejak dulu memahami bahwa momen kematian adalah momen yang sakral dan privat.
Oleh karena itu, penyebaran foto jenazah di media sosial jelas bertentangan dengan nilai-nilai budaya Indonesia. Tindakan ini menunjukkan kemunduran etika di tengah kemajuan teknologi komunikasi.
POLISI IKUT IMBAU PUBLIK JAGA EMPATI
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto juga mengimbau masyarakat untuk menjaga empati terhadap keluarga almarhum. Ia mengingatkan bahwa menyebar foto jenazah dan berspekulasi hanya memperkeruh suasana.
“Kami juga mengimbau untuk kita menjaga empati keluarga almarhum atas kejadian ini,” kata Budi dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).
Lebih lanjut, Budi mengingatkan masyarakat agar bijak bermedia sosial. Doa dan penghormatan dinilai jauh lebih pantas dibanding menyebarkan konten sensitif dan berasumsi tanpa dasar.
IMBAUAN UNTUK MENDOAKAN ALMARHUMAH
Budi menekankan bahwa alangkah baiknya masyarakat mendoakan agar almarhumah tenang di alam sana. Tindakan ini jauh lebih bermakna dibanding menyebarkan foto atau spekulasi.
“Empati atas duka cita yang terjadi, termasuk menyebarkan foto almarhum serta asumsi yang kurang baik. Alangkah baiknya kita mendoakan agar almarhumah tenang di alam sana,” ucap dia.
Dengan demikian, baik pihak kepolisian, ahli psikiater, maupun sosiolog sepakat bahwa penyebaran foto jenazah adalah tindakan yang tidak etis dan berpotensi merugikan banyak pihak.
ARIEF MUHAMMAD IKUT MURKA SOAL SURAT KEMATIAN
Influencer Arief Muhammad juga mengungkapkan kekesalannya setelah mengetahui bahwa surat kematian Lula Lahfah ikut tersebar di media sosial. Ia menilai hal tersebut sangat tidak pantas.
“Surat kematian sampai bisa kesebar sih gila. Hal paling confidential yang seharusnya dijaga malah beredar bebas,” tulis Arief di akun Instagram @ariefmuhammad, dikutip Minggu (25/1/2026).
Dalam surat tersebut, tertera data pribadi seperti nama, NIK, alamat lengkap hingga penyebab kematian yang seharusnya bukan menjadi konsumsi publik. Tersebarnya dokumen sensitif ini menambah deretan masalah etika di balik kematian Lula Lahfah.
KRONOLOGI MENINGGALNYA LULA LAHFAH
Selebgram Lula Lahfah ditemukan meninggal dunia di Apartemen Essence Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada Jumat, 23 Januari 2026. Petugas keamanan apartemen menemukan korban sekitar pukul 18.44 WIB.
Kekhawatiran bermula dari ART Lula yang melaporkan bahwa sang majikan tidak membuka pintu saat diketuk. Petugas keamanan kemudian membuka paksa pintu dan menemukan Lula sudah tidak bernyawa di kamarnya.
Polisi menyatakan tidak menemukan tanda-tanda penganiayaan pada jenazah. Namun demikian, petugas menemukan obat-obatan dan surat rawat jalan dari RSPI di dalam apartemen.
KONDISI KESEHATAN LULA SEBELUM MENINGGAL
Kabid Humas Polda Metro Jaya mengungkapkan bahwa Lula sedang memiliki masalah kondisi kesehatan sebelum meninggal. Ia bahkan sempat berobat pada malam sebelum ditemukan tidak bernyawa.
Surat kematian yang beredar menyebutkan bahwa Lula meninggal dunia pada 23 Januari 2026 pukul 19.20 WIB dengan penyebab henti jantung/henti napas. Jenazah kemudian dibawa ke RS Fatmawati untuk keperluan visum.
Lula dimakamkan pada Jumat, 24 Januari 2026 di TPU Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur. Prosesi pemakaman dihadiri keluarga, kerabat, dan sejumlah rekan selebriti yang sangat terpukul dengan kepergiannya.
PELAJARAN PENTING DARI FENOMENA INI
Viralnya seruan “Death is Not Content” memberikan pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia tentang etika bermedia sosial. Teknologi yang memudahkan penyebaran informasi seharusnya diimbangi dengan kebijaksanaan dalam menggunakannya.
Kematian adalah momen yang sakral dan penuh duka bagi keluarga. Masyarakat perlu memahami bahwa rasa ingin tahu tidak boleh mengalahkan empati dan penghormatan terhadap privasi orang lain.
Selain itu, fenomena ini juga mengingatkan pentingnya edukasi literasi digital. Pengguna media sosial perlu memahami dampak dari setiap konten yang mereka bagikan, terutama yang menyangkut informasi sensitif.
CARA MENUNJUKKAN EMPATI YANG BENAR
Para ahli sepakat bahwa ada cara yang lebih baik untuk menunjukkan kepedulian ketika seseorang meninggal dunia. Pertama, cukup mendoakan almarhumah tanpa perlu menyebarkan foto atau informasi sensitif.
Kedua, jika menemukan konten tidak etis, segera laporkan (report) agar platform dapat menghapusnya. Ketiga, hindari memberikan komentar spekulatif atau asumsi yang tidak berdasar.
Terakhir, hormati privasi keluarga yang sedang berduka. Biarkan mereka menjalani proses duka dengan tenang tanpa tekanan dari publik yang ingin tahu segala sesuatunya.
PENUTUP: EMPATI LEBIH PENTING DARI KONTEN
Fenomena viral “Death is Not Content” usai meninggalnya Lula Lahfah menjadi pengingat penting bagi masyarakat digital Indonesia. Kematian bukanlah konten yang layak dieksploitasi untuk kepentingan engagement atau popularitas.
Psikiater dr Lahargo Kembaren dengan tegas menyatakan bahwa empati jauh lebih penting daripada rasa ingin tahu. Setiap klik dan share yang dilakukan bisa memberikan dampak psikologis nyata bagi orang lain, terutama keluarga yang sedang berduka.
Semoga tragedi ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran kolektif tentang etika bermedia sosial. Menahan jempol sebelum membagikan konten sensitif kadang lebih menyelamatkan daripada menekan tombol share.